BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sosiologi
banyak memberikan pengetahuan tentang cara-cara berprilaku seseorang dalam
masyarakat sesuai dengan norma dan nilai yang ada di masyarakat tersebut.
Dengan ilmu sosiologi diharapkan seseorang memiliki pengetahuan yang lebih
lengkap tentang bagaimana harus berprilaku dalam melakukan penyesuaian diri di
masyarakat. Obyek kajian sosiologi adalah masyarakat yang dilihat dari sudut
hubungan antarmanusia dan proses yang timbul dari hubungan manusia di dalam masyarakat.
Kajian ini akan memberikan pengetahuan tambahan bagi siapapun yang
mempelajarinya untuk melengkapi pengetahuan-pengetahuan dalam praktik pergaulan
di dalam masyarakat, dan juga mengenai perilaku yang menyimpang didalam
lingkungan. Oleh karena itu makalah ini akan membahas ilmu sosiologi mengenai
tidakan perilaku menyimpang dan sikap anti sosial.
B.
RUMUSAN PEMBAHASAN
1. Apa yang
dimaksud dengan perilaku menyimpang dan sikap anti sosial?
2. Apa ciri dan
penyebab perilaku menyimpang dan sikap anti sosial?
3. Bagai mana
dampak perilaku menyimpang dan sikap anti sosial?
C.
TUJUAN
Ada pun tujuan kami dalam makalah
ini agar kelak kehidupan dimasyarakat dapat terkontrol dengan baik dan jauh
dari perilaku menyimpang dan anti sosial.
BAB. II
PEMBAHASAN
A. PRILAKU MENYIMPANG
1. Definisi Perilaku Menyimpang
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia perilaku menyimpang diartikan sebagai tingkah laku, perbuatan, atau tanggapan seseorang terhadap lingkungan yang bertentangan dengan norma-norma dan hukum yang ada di dalam masyarakat.
Dalam kehidupan masyarakat, semua tindakan manusia dibatasi oleh aturan (norma) untuk berbuat dan berperilaku sesuai dengan sesuatu yang dianggap baik oleh masyarakat. Namun demikian di tengah kehidupan masyarakat kadang-kadang masih kita jumpai tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan aturan (norma) yang berlaku pada masyarakat, misalnya seorang siswa menyontek pada saat ulangan, berbohong, mencuri, dan mengganggu siswa lain.
1. Definisi Perilaku Menyimpang
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia perilaku menyimpang diartikan sebagai tingkah laku, perbuatan, atau tanggapan seseorang terhadap lingkungan yang bertentangan dengan norma-norma dan hukum yang ada di dalam masyarakat.
Dalam kehidupan masyarakat, semua tindakan manusia dibatasi oleh aturan (norma) untuk berbuat dan berperilaku sesuai dengan sesuatu yang dianggap baik oleh masyarakat. Namun demikian di tengah kehidupan masyarakat kadang-kadang masih kita jumpai tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan aturan (norma) yang berlaku pada masyarakat, misalnya seorang siswa menyontek pada saat ulangan, berbohong, mencuri, dan mengganggu siswa lain.
Berikut ini beberapa definisi dari perilaku menyimpang yang dijelaskan oleh beberapa ahli sosiologi :
1. Menurut James Worker Van der Zaden. Penyimpangan sosial adalah
perilaku yang oleh sejumlah besar orang dianggap sebagai hal yang
tercela dan di luar batas toleransi.
2. Menurut Robert Muhamad Zaenal Lawang. Penyimpangan sosial adalah
2. Menurut Robert Muhamad Zaenal Lawang. Penyimpangan sosial adalah
semua tindakan yang menyimpang dari
norma-norma yang berlaku
dalam masyarakat dan menimbulkan usaha dari
yang berwenang dalam
sistem itu untuk memperbaiki perilaku
menyimpang tersebut.
3. Menurut Paul Band Horton. Penyimpangan sosial adalah setiap perilaku
3. Menurut Paul Band Horton. Penyimpangan sosial adalah setiap perilaku
yang dinyatakan sebagai pelanggaran
terhadap norma-norma kelompok
atau masyarakat.
Penyimpangan terhadap norma-norma atau nilai-nilai masyarakat disebut deviasi (deviation), sedangkan pelaku atau individu yang melakukan penyimpangan disebut devian (deviant). Kebalikan dari perilaku menyimpang adalah perilaku yang tidak menyimpang yang sering disebut dengan konformitas. Konformitas adalah bentuk interaksi sosial yang di dalamnya seseorang berperilaku sesuai dengan harapan kelompok.
2. Ciri-ciri Perilaku Menyimpang
Menurut Paul B. Horton perilaku menyimpang memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Penyimpangan harus dapat didefinisikan. Perilaku dikatakan
Penyimpangan terhadap norma-norma atau nilai-nilai masyarakat disebut deviasi (deviation), sedangkan pelaku atau individu yang melakukan penyimpangan disebut devian (deviant). Kebalikan dari perilaku menyimpang adalah perilaku yang tidak menyimpang yang sering disebut dengan konformitas. Konformitas adalah bentuk interaksi sosial yang di dalamnya seseorang berperilaku sesuai dengan harapan kelompok.
2. Ciri-ciri Perilaku Menyimpang
Menurut Paul B. Horton perilaku menyimpang memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. Penyimpangan harus dapat didefinisikan. Perilaku dikatakan
menyimpang atau tidak harus bisa dinilai
berdasarkan kriteria tertentu
dan
diketahui penyebabnya.
b. Penyimpangan bisa diterima bisa juga ditolak. Perilaku menyimpang
b. Penyimpangan bisa diterima bisa juga ditolak. Perilaku menyimpang
tidak selamanya negatif, ada kalanya
penyimpangan bisa diterima
masyarakat,
misalnya wanita karier. Adapun pembunuhan dan
perampokan merupakan penyimpangan sosial yang
ditolak masyarakat.
c. Penyimpangan relatif dan penyimpangan mutlak. Semua orang pernah
c. Penyimpangan relatif dan penyimpangan mutlak. Semua orang pernah
melakukan
perilaku menyimpang, akan tetapi pada batas-batas tertentu
yang
bersifat relatif untuk semua orang. Dikatakan relatif karena
perbedaannya hanya pada frekuensi dan kadar
penyimpangan
d. Penyimpangan terhadap budaya nyata ataukah budaya ideal. Budaya
d. Penyimpangan terhadap budaya nyata ataukah budaya ideal. Budaya
ideal
adalah segenap peraturan hukum yang berlaku dalam suatu
kelompok masyarakat.
e. Terdapat norma-norma penghindaran dalam penyimpangan. Norma
e. Terdapat norma-norma penghindaran dalam penyimpangan. Norma
penghindaran adalah pola perbuatan yang
dilakukan orang untuk
memenuhi keinginan mereka, tanpa harus
menentang nilai-nilai tata
kelakukan secara terbuka.
f. Penyimpangan sosial bersifat adaptif (menyesuaikan). Penyimpangan sosial tidak selamanya menjadi ancaman karena kadang-kadang dapat dianggap sebagai alat pemikiran stabilitas sosial.
f. Penyimpangan sosial bersifat adaptif (menyesuaikan). Penyimpangan sosial tidak selamanya menjadi ancaman karena kadang-kadang dapat dianggap sebagai alat pemikiran stabilitas sosial.
3. Penyebab Terjadinya Perilaku Menyimpang
Menurut Wilnes dalam bukunya Punishment and Reformation sebab-sebab penyimpangan/kejahatan dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut :
a. Faktor subjektif adalah faktor yang berasal dari seseorang itu sendiri
Menurut Wilnes dalam bukunya Punishment and Reformation sebab-sebab penyimpangan/kejahatan dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut :
a. Faktor subjektif adalah faktor yang berasal dari seseorang itu sendiri
(sifat pembawaan yang dibawa sejak
lahir).
b. Faktor objektif adalah faktor yang berasal dari luar (lingkungan).
b. Faktor objektif adalah faktor yang berasal dari luar (lingkungan).
Misalnya keadaan rumah tangga, seperti
hubungan antara orang tua dan
anak
yang tidak serasi.
Untuk lebih jelasnya, berikut diuraikan beberapa penyebab terjadinya penyimpangan seorang individu (faktor objektif), yaitu
1. Ketidaksanggupan menyerap norma-norma kebudayaan. Seseorang
yang
tidak sanggup menyerap norma-norma kebudayaan ke dalam
kepribadiannya, ia tidak dapat membedakan hal
yang pantas dan tidak
pantas. Keadaan itu terjadi akibat dari
proses sosialisasi yang tidak
sempurna, misalnya karena seseorang tumbuh
dalam keluarga yang retak
(broken
home)
2. Proses belajar yang menyimpang. Seseorang yang melakukan tindakan
2. Proses belajar yang menyimpang. Seseorang yang melakukan tindakan
menyimpang karena seringnya membaca atau
melihat tayangan tentang
perilaku menyimpang. Hal itu merupakan bentuk
perilaku menyimpang
yang disebabkan karena proses belajar yang
menyimpang.
3. Ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial. Terjadinya
3. Ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial. Terjadinya
ketegangan antara kebudayaan dan struktur
sosial dapat mengakibatkan
perilaku yang menyimpang. Hal itu terjadi jika
dalam upaya mencapai
suatu
tujuan seseorang tidak memperoleh peluang, sehingga ia
mengupayakan peluang itu sendiri, maka
terjadilah perilaku
menyimpang
.
4. Ikatan sosial yang berlainan. Setiap orang umumnya berhubungan
4. Ikatan sosial yang berlainan. Setiap orang umumnya berhubungan
dengan beberapa kelompok. Jika pergaulan
itu mempunyai pola-pola
perilaku yang menyimpang, maka kemungkinan
ia juga akan
mencontoh pola-pola perilaku menyimpang.
5. Akibat proses sosialisasi nilai-nilai sub-kebudayaan yang menyimpang.
5. Akibat proses sosialisasi nilai-nilai sub-kebudayaan yang menyimpang.
Seringnya media massa menampilkan berita
atau tayangan tentang
tindak kejahatan (perilaku menyimpang)
menyebabkan anak secara
tidak sengaja menganggap bahwa perilaku menyimpang
tersebut
sesuatu yang
wajar.
4. Bentuk-Bentuk Perilaku Menyimpang
Bentuk-bentuk perilaku menyimpang dapat dibedakan menjadi dua, sebagai berikut.
4. Bentuk-Bentuk Perilaku Menyimpang
Bentuk-bentuk perilaku menyimpang dapat dibedakan menjadi dua, sebagai berikut.
• Bentuk penyimpangan berdasarkan sifatnya dibedakan menjadi dua,
yaitu
sebagai berikut.
1. Penyimpangan bersifat positif. Penyimpangan bersifat positif adalah
1. Penyimpangan bersifat positif. Penyimpangan bersifat positif adalah
penyimpangan yang mempunyai dampak positif
ter-hadap sistem
sosial karena mengandung unsur-unsur
inovatif, kreatif, dan
memperkaya wawasan seseorang.
2. Penyimpangan bersifat negatif. Penyimpangan bersifat negatif adalah
2. Penyimpangan bersifat negatif. Penyimpangan bersifat negatif adalah
penyimpangan yang bertindak ke arah
nilai-nilai sosial yang dianggap
rendah dan selalu mengakibatkan hal yang
buruk
a. Penyimpangan primer (primary deviation). Penyimpangan
primer adalah penyimpangan yang
dilakukan seseorang yang
hanya bersifat temporer dan tidak
berulang-ulang.
b.
Penyimpangan sekunder (secondary deviation). Penyimpangan
sekunder adalah perilaku menyimpang yang nyata
dan seringkali
terjadi, sehingga berakibat cukup parah
serta menganggu orang
lain.
B. SIKAP ANTI SOSIAL
1.Definisi sikap anti sosial
Anti-sosial adalah sikap yang sama sekali tidak fleksibel, dan setiap sikap anti-sosial menunjukkan ketidakmampuan untuk beradaptasi. Banyak contoh sikap yang mirip anti-sosial berkembang dengan maraknya. Di jalan raya, kemacetan terjadi di mana-mana. Penyebabnya tidak secara keseluruhan diakibatkan oleh jumlah kendaraan yang tak seimbang dengan panjang jalan, namun kemacetan yang terjadi lebih dikarenakan motivasi agresi manusianya yang tidak dapat dikendalikan.
2. Kepribadian anti sosial
Satu hal yang bersifat para doksal dalam psikopatologi adalah bahwa beberapa orang yang mengalami sikap anti sosial secara intelektual adalah normal namun disegi lain memiliki kepribadian yang abnormal. Lama, kondisi paradoks ini sulit dijelaskan. Hal tersebut diterima tanpa adanya pertanyaan selain cukup dipahami bahwa adanya disintegrasi dari penyebab dan intelektual yang menghasilkan gangguan mental.
Berdasarkan telaahan yang tersebut di atas, kepribadian antisosial setidaknya menunjukan 5 ciri kepribadian, yaitu :
1. Ketidakmampuan belajar atau mengambil manfaat dari
pengalaman.
2. Emosi
bersifat superficial, tidak alami.
3. Irresponsibility/tidak bertanggungjawab.
4. Tidak memiliki hati nurani, tegaan.
5. Impulsiveness.
3. Irresponsibility/tidak bertanggungjawab.
4. Tidak memiliki hati nurani, tegaan.
5. Impulsiveness.
Lebih jauh kepribadian antisosial seharusnya tidak dikaitkan dengan kategori diagnostik seperti retardasi mental, gangguan otak, psikosis, atao situasi maladjustment lainnya (Ziskind, 1973). Artinya saat kepribadian antisosial dijelaskan dalam istilah psikologis seperti itu, maka diagnosa tentang antisosial hanya dapat dilakukan bila kondisi-kondisi lain yang menyertai salah satu diagnostik tadi muncul didalamnya.
Pada dasarnya seorang yang memiliki kepribadian antisosial tidak mampu untuk bersikap hangat dan membina relasi interpersonal yang baik.. Pada saat pendapat atau sikap orang yang antisosial tidak diterima mereka dapat menjadi berbahaya dan mungkin akan melakukan kekerasan. Karena mereka tidak memiliki nurani, mereka mampu berperilaku ekstrim seperti agresif, brutal, atau tingkah laku lain yang menyakiti.
3.Pengaruh Media Dalam Sikap Anti Sosial
Pada tahun 2005, majalah Playboy edisi Indonesia mulai terbit. Penerbitan majalah hiburan laki-laki ini mengakibatkan protes di kalangan tertentu masyarakat Indonesia. Banyak edisi majalah hiburan pria Indonesia seperti FHM, Popular, Lipstik terbit di Indonesia. Pernah marak juga di televisi (hampir semua televisi Indonesia menyiarkan program acara berbau “hantu”)
Kasus-kasus tersebut diatas sering digunakan untuk menuduh media menggunakan kekuatanya untuk mempengaruhi tingkah laku anti-sosial para pembaca dan penonton. Hal ini dapat memicu penonton untuk mengkritik dan menimbulkan kemarahan terhadap media.
4. Media dan tanggung jawab moral
Karena media sangat tinggi jangkauannya dan sangat berpengaruh, untuk itu memakan waktu antara masyarakat dan posisi moral. Secara luas ada 3 kategori mengenai media dan tingkah laku anti social antara lain :
1. Sikap anti sosial para praktisi yang berhubungan dalam kewajiban para
professional.
2. Tugas media hanya sebagai pelengkap terhadap tingkah laku anti sosial
3. Konflik yang terjadi antara tanggung jawab professional dan tingkah
2. Tugas media hanya sebagai pelengkap terhadap tingkah laku anti sosial
3. Konflik yang terjadi antara tanggung jawab professional dan tingkah
laku anti sosial dalam
kehidupan pribadi para praktisi media.
5. Sikap anti-sosial dan kewajiban media
5. Sikap anti-sosial dan kewajiban media
Praktisi media adalah sebagai penjaga dan jembatan antara media dan publik, untuk alasan tersebut mereka menghindari perintah untuk menyiarkan perilaku anti sosial di media. Bagaimana pun juga keadaan ini merupakan suatu kelemahan bagi para praktisi media terhadap moral dan hukum. Meskipun masih ada sedikit keraguan yang diharapkan , terkadang para audience mengirimkan pesan yang salah mengenai sikap anti sosial tersebut. Pertama-tama , kekerasan hukum menjadi bagian dalam tugas seorang reporter. Apabila seorang wartawan mencerminkan publik, seharusnya mereka lebih memperhatikan keinginan publiknya. Selain itu, apabila para pelaku kekerasan beranggapan bahwa hal itu adalah biasa, hal itu akan merusak tatanan hukum yang ada.
BABA III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah
sebagai berikut:
Perilaku menyimpang adalah
perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku
dalam masyarakat. Perilaku menyimpang dapat terjadi pada manusia muda, dewasa,
atau tua baik laki-laki maupun perempuan. Perilaku menyimpang ini tidak mengenal
pangkat atau jabatan dan tidak juga tidak mengenal waktu dan tempat.
Anti-sosial adalah sikap yang sama sekali tidak
fleksibel, dan setiap sikap anti-sosial menunjukkan ketidakmampuan untuk
beradaptasi. Banyak contoh sikap yang mirip anti-sosial berkembang dengan
maraknya. Di jalan raya, kemacetan terjadi di mana-mana. Penyebabnya tidak
secara keseluruhan diakibatkan oleh jumlah kendaraan yang tak seimbang dengan
panjang jalan, namun kemacetan yang terjadi lebih dikarenakan motivasi agresi
manusianya yang tidak dapat dikendalikan.
B. SARAN
Ada pun
saran dari kami melalui makalah ini ialah:
Sebagai masyarakat yang hidup dikelilingi oleh hukum hendaknya kita lebih
bisa bersadar diri tentang tindakan kita sehari-hari agar yang kita lakukan
tidak berdampak buruk bagi lingkungan yang ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar